Sinar Mulia Plasindo Lestari

Biodegradable, Janji yang ingkar ?

Tak ada yang tak mengenal plastik !

Dari tahun ke tahun, produk plastik justru semakin banyak digunakan, mulai dari pembungkus makanan/minuman, alat makan, botol minum, berbagai wadah, gantungan pakaian, peralatan kantor dan sekolah, bahkan meja dan kursi sekali pun.

Hal ini tentu menyebabkan manusia sulit sekali lepas dari plastik. Dan berkembangnya industri untuk menghasilkan produk-produk plastik dengan kualitas yang semakin baik.

KelebihanKekurangan
Kuat tetapi ringanSulit terurai oleh mikro organisme
Isolator pada alat masakMengganggu ekosistem jika dibiarkan menumpuk
Awet dan tahan lamaMengganggu ekosistem jika dibiarkan menumpuk
Harga lebih terjangkauBeberapa jenis mudah meleleh
Perawatan mudah
Beragam variasi warna
Tahan terhadap aliran listrik

Dalam beberapa kondisi dan beberapa produk, plastik sulit sekali digantikan dengan material lain sebab kelebihannya. Namun plastik juga menjadi isu lingkungan yang serius sebab kelemahannya.

Produk plastik sulit terurai, akibatnya sampah-sampah bekas pakai produk ini terus menumpuk. Sejak munculnya kesadaran akan pencemaran lingkungan, bermunculan berbagai solusi, misalnya 3R (reduce, reuse dan recyle).

Sayangnya daur ulang plastik tidak mencapai 30% dari total plastik yang diproduksi. Dari permasalahan inilah muncul plastik biodegradable sebagai solusi.

Sampah Biodegradable

Apa itu Plastik Biodegradable ?

Jika plastik-plastik yang banyak digunakan saat ini, kebanyakan berasal dari pengolahan minyak bumi. Plastik biodegradable ini berbahan dasar tepung, seperti tepung singkong, kentang, dan beras, yang dapat diurai oleh alam menjadi CO2 dan biomassa lainnya dengan bantuan mikro organisme.

Plastik biodegradable merupakan plastik yang dapat diuraikan kembali oleh mikroorganisme tanah secara alami menjadi senyawa yang ramah lingkungan.

Beberapa produk yang dibuat dari material plastik biodegradable yang umum ditemui antara lain kantong plastik sampah dan peralatan makan sekali pakai. 

Selain itu masih banyak produk plastik solid yang dapat digunakan berulang kali namun dengan material biodegradable seperti piring, gelas, sendok, garpu, dll.

Beberapa Negara maju bahkan sudah mulai menggunakan plastik biodegradable ini untuk menggantikan plastik konvesional. Klaimnya yang mudah diuraikan membuat biodegradable ini memiliki citra plastik ramah lingkungan.

 

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan plastik biodegradable dibandingkan plastik konvensional :

KelebihanKekurangan
Mudah terurai oleh mikro organismeTidak tahan suhu di atas 85
Tidak mengandung zat berbahayaTidak membusuk kecuali dikubur
Mengurangi permintaan bahan bakar fosilHanya terurai pada suhu 122 derajat F
Mengurangi volume sampah kota

 

Memang benar, jika dibandingkan dengan plastik konvensional, plastik biodegradable memiliki jangka waktu yang lebih singkat untuk diurai oleh mikro organisme. Tapi dengan catatan bahwa “plastik ramah lingkungan” ini perlu perlakuan khusus agar klaim tersebut bisa terwujud.

Plastik biodegradable membutuhkan suhu tinggi, tingkat tekanan tertentu, dan nutrisi yang tepat dan kondisi kimia lainnya untuk dikomposkan dengan benar. Tidak ada skala waktu spesifik untuk degradasi ini tanpa perlakuan khhusus; bahkan dalam beberapa kondisi dibutuhkan waktu bertahun-tahun.

Konsep bahan plastik biodegradable merujuk pada sebuah materi yang akan terurai menjadi sedikit atau hilang sama sekali dalam periode waktu tertentu, sehingga tidak terlalu membahayakan hewan dan lingkungan.

Jadi, apakah Biodegradable memang benar tidak menepati janji ?

Biodegradable adalah solusi untuk mengurangi kandungan bahaya pada plastik terhadap lingkungan. Tetapi tidak mengatasi masalah pencemaran lingkungan dan lautan karena menumpuknya sampah plastik.

Biodegradable utuh di lautan

Penelitian yang dilakukan oleh Unit Penelitian Sampah Laut Internasional Universitas Plymouth mengungkap bahwa kantong plastik yang disebut-sebut biodegradable ternyata masih utuh setelah tiga tahun di laut atau terkubur di bawah tanah.

Tas-tas plastik yang tidak terurai ini masih bisa menyimpan lebih dari dua kilogram belanjaan.

Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth, telah menguji tas-tas plastik jenis kompos, biodegradable, oxo-biodegradable –

(terurai karena bereaksi dengan panas dan oksigen sehingga plastik pecah jadi molekul kecil yang bisa diurai oleh mikroorganisme jadi C02, H2O dan biomassa), dan polietilena konvensional (PE) di tiga lingkungan alami yang berbeda: terkubur di tanah, di luar ruangan yang terpapar udara serta sinar matahari, dan terendam dalam air laut.

Dalam jangka waktu tiga tahun setelah pertama kali penelitian dilakukan, semua plastik masih utuh seperti sedia kala. Tidak satu pun tas-tas itu rusak sepenuhnya di semua lingkungan yang diuji. Secara khusus, kantong biodegradable mampu bertahan di tanah dan laut hampir tanpa kerusakan.

Realitas yang cukup mengejutkan bukan ? Plastik yang “dapat terurai secara alami” belum bisa memenuhi harapan kita. Ada berbagai jenis plastik yang dapat terbiodegradasi, yang menawarkan tingkat keteruraian yang berbeda dan umumnya memerlukan kondisi khusus untuk melakukannya.

Sama halnya dengan plastik konvensional, plastik biodegradable ini juga harus dibuang pada tempat yang benar. Keberadaan plastik ramah lingkungan tidak boleh dijadikan alasan untuk membuang sampah sembarangan. Lagi, pada kasus ini tetap saja plastik biodegradable tetap memerlukan medium untuk mengumpulkannya.

Tumpukan sampah

Tidak ada perbedaan besar antara plastik konvensional dengan plastik biodegradable

Beberapa plastik biodegradable akan mudah terurai dalam layanan pengomposan perumahan, tetapi mereka mungkin tidak rusak di lingkungan TPA karena kondisinya tidak ideal untuk mikroorganisme.

Laut merupakan salah satu lingkungan yang tidak ideal untuk penguraian plastik biodegradable. Sebagian besar mikroorganisme menyukai kehangatan dan oksigen, kondisi yang umumnya tidak ada di laut. Dengan demikian, plastik biodegradable yang dibuang ke laut tetap saja dapat berbahaya bagi kehidupan laut.

Akibat Sampah Plastik

Tanpa adanya infrastruktur untuk memproduksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang mereka dalam skala besar mereka tidak bisa dijadikan solusi berkelanjutan. Pada saat ini, berbagai jenis plastik bio-degradable dan konvensional yang digunakan dapat menimbulkan masalah bagi sistem daur ulang jika dicampur.

Sementara 46% dari kemasan plastik di Inggris adalah plastik daur ulang, kompos, atau biodegradable yang tidak didukung oleh sistem daur ulang yang ada, akan pergi ke tempat pembuangan sampah atau insinerasi.

Beberapa, tetapi tidak semua, plastik konvensional dapat dipecah secara mekanis dan kimiawi, atau didaur ulang, dan diubah menjadi bahan plastik baru untuk membuat sejumlah produk baru.

Namun, mendaur ulang plastik dapat menjadi tantangan karena berbagai jenis plastik konvensional tidak selalu menyatu dengan baik untuk membuat bahan baru. Jadi, plastik konvensional yang dibuang ke tempat sampah daur ulang tepi jalan harus disortir, yang menambah tingkat kerumitan (dan jam kerja) pada prosesnya.

 

Beberapa, tetapi tidak semua, plastik konvensional dapat dipecah secara mekanis dan kimiawi, atau didaur ulang, dan diubah menjadi bahan plastik baru untuk membuat sejumlah produk baru.

Namun, mendaur ulang plastik dapat menjadi tantangan karena berbagai jenis plastik konvensional tidak selalu menyatu dengan baik untuk membuat bahan baru. Jadi, plastik konvensional yang dibuang ke tempat sampah daur ulang tepi jalan harus disortir, yang menambah tingkat kerumitan (dan jam kerja) pada prosesnya.

Pada akhirnya, konvensional ataupun biodegradable tetaplah sama.

Share Article to :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Your email address will not be published.