Seperti Ini Design Plastik Tersolutif di Masa Depan

Design plastik, atau secara umum kemasan produk, adalah salah satu media perusahaan dalam mempromosikan brandnya kepada publik. Kemasan merupakan identitas dan ciri khas yang membedakan produk suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan sebuah produk juga bisa ditentukan dari bagaimana tampilan kemasannya. Jika kita perhatikan produk-produk di sekitar, terutama yang berbahan dasar plastik, masing-masing kemasan memiliki bentuk dan warna yang berbeda-beda. Misalkan kemasan air minum, tutup botol dan badan botol pada air mineral kemasan memiliki warna yang beragam, seperti biru, putih, hijau, merah, dan lain sebagainya. Belum lagi plastik label plastik dan bentuk botol yang beragam. Hal tersebut membuktikan bahwa, berbicara tentang ‘design’ berarti berbicara tentang hal-hal yang membuat suatu produk menjadi menarik secara visual. Sayangnya tidak banyak yang tahu, bahwa nilai estetika atau kemenarikan dari sebuah kemasan justru dapat mempersulit proses daur ulang dari limbah produk tersebut. Mestinya, apa yang dimaksud “promosi” di sini bukan perihal visual dan pesan yang dibawa oleh kemasan saja, tetapi juga perihal keramahan produk tersebut terhadap system daur ulang sebagai proses akhir dari penggunaan yang berkelanjutan. Antara Design Plastik dan Daur Ulang Untuk Lingkungan Menurut Plastic Atlas 2019, yang diterbitkan oleh organisasi nirlaba Jerman Heinrich Böll Stiftung dan BUND, lebih dari 400 juta ton plastik dikonsumsi di seluruh dunia setiap tahunnya, angka yang trennya meningkat. Bahkan tidak seperempat dari plastik ini dapat didaur ulang. Tidak seperempatnya. “Sekarang terkenal bahwa daur ulang adalah faktor penting untuk mengurangi limbah. Hal yang kurang dipahami oleh banyak orang adalah kontribusinya terhadap perlindungan iklim. ” – Dr. Christoph Hoffmann, Direktur Strategi Perusahaan, Keberlanjutan & Ekonomi Sirkular di ALPLA. Plastik daur ulang tidak hanya mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan, tetapi juga memiliki jejak karbon yang jauh kebih rendah daripada plastik baru yang terbuat dari bahan bakar fosil. Design produk dan kemasan merupakan peluang bagi perusahaan barang konsumen untuk mengurangi emisi karbon dan berkontribusi dalam melindungi iklim melalui penggunaan plastik daur ulang. Perusahaan mesti berfokus untuk menutup lingkaran daur ulang dengan design kemasan yang cerdas yang dapat atau mudah didaur ulang. Kendala Daur Ulang Plastik “Persoalan sampah itu multidimensi, alias bukan karena satu pihak saja. Pertama adalah perilaku masyarakat, kultural. Survei BPS pada tahun 2018 menyebut 72 persen masyarakat belum peduli tentang pengelolaan sampah” Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penting untuk melihat bagaimana ekosistem pengumpulan dari bank sampah dan pelaku masyarakat bisa saling terintegrasi dengan para pendaur ulang. Oleh sebab itu, penting untuk pemilahan di sumber utama untuk meningkatkan kualitas sampah karena sistem pengumpulannya harus bersinergi. Agar harmonisasi ekosistem daur ulang bisa maksimal, pemilahan dari rumah tangga sebaiknya lebih cepat dilakukan. Sampah tidak tercampur dengan organik itu saja sudah meningkatkan nilai daur ulang. Resep untuk mengurangi sampah plastik adalah kolaborasi dalam ekonomi sirkular yang berfungsi. “Perekonomian tidak bisa hanya tentang mengekstraksi bahan mentah, mengubahnya menjadi barang dan kemudian menawarkannya untuk dikonsumsi,” kata Sebastian Bayer, Direktur Pemasaran dan Pengadaan di rantai toko obat Jerman dm, yang memprakarsai Forum Daur Ulang di Jerman. Inovasi Membawa Perubahan Kepada Lingkungan Salah satu cara efektif yang bisa dilakukan untuk keberlangsungan lingkungan yang baik ialah dengan memperbaiki sistem daur ulang yang kita miliki. Dan untuk memperbaikinya, kita harus mendesain produk dengan goals agar bisa/mudah di daur ulang. Tapi apa maksudnya ? Ketika kita berbicara design, kita tidak berbicara tentang visual, tetapi kita berbicara tentang design dengan tujuan akhir. Design untuk daur ulang adalah strategi design ramah lingkungan. Umumnya, produk di-desain untuk kemudahan penggunaan bukan untuk pemakaian berkelanjutan. Lalu untuk memperbaiki konsep design saat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Inovasi Membawa Perubahan Kepada Lingkungan Salah satu cara efektif yang bisa dilakukan untuk keberlangsungan lingkungan yang baik ialah dengan memperbaiki sistem daur ulang yang kita miliki. Dan untuk memperbaikinya, kita harus mendesain produk dengan goals agar bisa/mudah di daur ulang. Tapi apa maksudnya ? Ketika kita berbicara design, kita tidak berbicara tentang visual, tetapi kita berbicara tentang design dengan tujuan akhir. Design untuk daur ulang adalah strategi design ramah lingkungan. Umumnya, produk di-desain untuk kemudahan penggunaan bukan untuk pemakaian berkelanjutan. Lalu untuk memperbaiki konsep design saat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Terbuat dari apa produk tersebut ? Saat ini, perusahaan industri plastik selalu mencampur beberapa polimer dalam membuat suatu produk. Pencampuran ini disebabkan karena perusahaan memerlukan sifat dan fitur dari beberapa jenis plastik yang berbeda pada produk yang akan mereka buat. Contohnya botol plastik air mineral. Klaim Kode RIC dengan nomor 1 pada botol, pada kenyataannya hanya menandai badan botolnya saja. Artinya, hanya badan botol yang terbuat dari plastik PET/PETE. Lalu bagaimana dengan tutup botol dan plastik label botolnya ? Selama ini sepertinya kita mengira bahwa seluruh bagian dari botol terbuat dari jenis plastik yang sama. Tutup botol air mineral ternyata terbuat dari plastik HDPE, sedangkan label yang terdapat print huruf dan gambar terbuat dari plastik PVC atau LDPE. Beragamnya Tipe Plastik Akan Menyulitkan Proses. Hal tersebut jelas akan mengurangi tingkat efisiensi dari proses daur ulang. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyortir jenis plastik yang berbeda-beda pada satu produk, di bandingkan mengumpulkannya langsung tanpa harus memisahkannya per bagian ? Mungkin jika jumlah produknya hanya satu tidak akan menjadi masalah besar. Tapi bagaimana jika puluhan atau mungkin sampai ratusan dan ribuan ? Perlu adanya perubahan atau peralihan ke penggunaan bahan tunggal pada produk. Hanya satu jenis dari plastik per produknya. 2. Apakah mengandung aditif ? Warna termasuk salah satu bahan aditif yang sering digunakan pada produk plastik. Bahan aditif (tambahan) ini akan menyulitkan daur ulang atau menyebabkannya terdegradasi selama proses daur ulang. Proses penyortiran akan menjadi lama nantinya sebab selain harus memisahkan limbah berdasarkan jenis plastik, juga harus memisahkannya berdasarkan kategori warna. Selain itu, plastik yang sudah tercampur dengan aditif akan kehilangan sifat dan fitur murninya ketika didaur ulang kembali. Bayangkan jika tutup botol yang beragam didaur ulang tanpa dipisahkan. Mungkin kita akan mendapatkan hasil warna abu atau coklat tua. Selain itu juga sifat yang dibawa pada plastik hasil darii daur ulang ini pun tidak jelas. 3. Seberapa mudah dibersihkan ? Kemudahan daur ulang juga ditentukan dari bersih atau tidaknya limbah plastik yang di proses. Kotoran yang menempel