Sinar Mulia Plasindo Lestari

Ketika Dunia Kecanduan Plastik

Di abad ke-21 ini siapa yang tidak mengenal plastik. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia di bumi tidak lepas dari yang namanya plastik. Mulai dari kesehatan, pekerjaan, rumah tangga, keamanan, transportasi dan lain sebagainya.

Semua menggunakan plastik sebagai materi dasar dari peralatan yang mereka gunakan. Nyaris semua benda yang ada disekeliling Anda sekarang terbuat dari plastik. Sadar atau tidak, manusia telah ketergantungan plastik.

Satu trilliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia setiap tahun, dengan rata-rata “masa kerja” hanya 15 menit. Penelitian menunjukkan, produksi plastik telah meningkat dari dua juta ton pada tahun 1950-an menjadi 380 juta ton pada 2015.

Tahun 2050 nanti, diperkirakan ada 34 milyar ton plastik yang diproduksi. Kenaikan angka ini menunjukkan kebutuhan manusia terhadap plastik pun meningkat. Suka atau tidak, manusia memang begitu memerlukan plastik.

Plastic for Products

Pulau Plastik di Atas Samudera

Dewasa ini banyak orang sedang mengkampanyekan gerakan pengurangan penggunaan plastik untuk menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan bumi. Dari skala kecil, hingga massal seperti yang dilakukan pemerintahan di beberapa Negara di belahan dunia.

Memang, antara kita, plastik, dengan lingkungan adalah tiga hal yang sulit dipisahkan. Sekitar 150 tahun silam manusia menciptakan materi plastik yang ringan, kuat, dan murah. Pada penerapan awalnya plastik juga merupakan solusi yang digunakan untuk menyelamatkan makhluk liar. Menggantikan gading gajah yang pada saat itu dijadikan bahan pembuatan bola biliar dan tuts piano.

Sampah Plastik di Laut
Plastic Waste on Ocean

Fungsi dan pemanfaatan plastik membuat permintaan juga tuntutan kebutuhannya menjadi semakin meningkat. Eksistensinya sangat tinggi sehingga meninggalkan jejak di bumi pun juga besar. Sekitar 8 juta ton plastik berakhir di lautan setiap tahunnya.

Menurut data NASA, sampah menumpuk di lima bagian samudra terbesar di Bumi, yakni samudra Hindia, Pasifik (utara dan selatan), dan Atlantik (utara dan selatan). Semua sampah itu terbawa arus hingga membentuk pulau-pulau sampah raksasa. Sisi negatif inilah yang menjadi perhatian banyak orang saat ini. Sehingga membuat plastik begitu tidak disukai oleh banyak orang.

Pahlawan Vs Penjahat

Fakta menyeramkan yang tidak bisa disangkal ialah hampir separuh dari samudera di bumi dicemari plastik yang terapung-apung di permukaannya. Perlu sekitar 450 tahun atau lebih untuk plastik dapat terurai menjadi molekul pembentuknya. Yang terancam bukanlah hanya perairan, tetapi ekosistem yang ada di dalamnya.

Terdengar jahat. Namun jika berbicara mengenai plastik, kita sebenarnya tidak bisa hanya membicarakannya dari satu sudut perspektif saja. Pada kenyataannya, manusia tidak bisa lepas dari bahan yang satu itu. Begitu banyak kemudahan yang kita dapatkan dari pemanfaatan plastik yang tidak bisa kita dapatkan dari bahan lain.

Banyak fitur yang dimiliki plastik tidak tergantikan oleh material lain. Plastik dengan manusia begitu erat, tetapi tidak dengan lingkungan, namun tidak lantas dengan mudahnya dimusuhi begitu saja. Banyak sisi baik yang kita –manusia- rasakan dari keberadaan plastik.

Tumpukan Sampah Plastik
Pile of Plastic Waste

Si Kambing Hitam

Meningkatnya pertumbuhan produksi plastik jauh meninggalkan kemampuan pengelolaan limbah untuk mengimbanginya. Pencemaran lingkungan yang terjadi adalah sebab dari pengelolaannya yang tidak tepat. Sangat mudah untuk menggunakan plastik, tetapi tata kelola setelahnya tidak sederhana, terutama dalam hal pelaksanaannya.

Kehidupan akan menjadi baik jika terjadi interaksi yang selaras antara mereka yang memanfaatkan dan yang dimanfaatkan. Point terpenting terhadap isu yang selama ini menjadi kekhawatiran seharusnya ialah sudah bijak kah kita dalam menggunakan dan memperlakukan plastik ?

Plastik menyelamatkan nyawa setiap hari, membantu jantung berdenyut, dan pesawat melayang di udara.  Plastik telah membuat hidup kita menjadi serba mudah dan murah.  Kita dan plastik begitu dekat dan melekat, namun belum mampu membuat kita mengenalinya dengan begitu baik. 

Banyak fakta yang tidak disadari dan luput dari pengetahuan kita mengenai plastik.  Mungkin yang kita tahu hanyalah bahwa banyak perlengkapan yang kita pakai berbahan dasar plastik dan bahan tersebut adalah primadona nomor satu dalam pencemaran lingkungan.

Solusi yang Tidak Menjadi Solusi

Kantong Kertas

Kertas mungkin tampak sangat ramah lingkungan, namun pada kenyataannya ia membutuhkan banyak sumber daya dalam pembuatannya. Memproduksi kertas memerlukan air dan energi dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Sedangkan memproduksi plastik memerlukan energi dan air yang sedikit dibanding kertas, kaca (botol) atau besi (kaleng). Pengolahan plastik tentu memerlukan banyak energi juga, tetapi ia menghasilkan limbah yang sangat sedikit dalam prosesnya, dan ketahanan produk lebih lama.

Dengan kemajuan kemajuan teknologi, plastik kemasan menjadi lebih ringan dan efisiensi penggunaan bahan meningkat.  Karena plastik tahan terhadap korosi, benturan, sinar UV dan banyak faktor lingkungan lainnya, maka barang berbahan plastik tidak perlu diganti sesering bahan lainnya.

Karung Plastik

Baik itu digunakan untuk komponen dalam sebuah mesin, pipa saluran pembuangan bawah tanah atau botol air yang dapat digunakan kembali, ini dapat membantu menghemat waktu dan biaya dengan mengurangi kebutuhan akan perawatan dan penggantian. 

Bukanlah berita baru bagi kita di industri plastik, bahwa plastik memberikan solusi ringan dan hemat energi untuk kemasan plastik, baik dalam pemrosesan maupun transportasinya. Penggunaan sumber daya dalam pembuatan kertas dibandingkan dengan plastik lebih tinggi.

Contohnya dalam penggunaan air, produksi kertas memerlukan biayanya jauh lebih tinggi. Padahal, di berbagai negara air ini adalah sumber daya yang keberadaannya sangat kurang. Energi yang digunakan untuk mengangkut barang dengan truk pun jauh lebih tinggi saat mengirimkan kardus dan kertas karton.

Sampah Plastik Konvensional & Biodegradable

Misalnya, lembar fakta yang disediakan oleh ACC mencatat bahwa 2.000 kantong plastik eceran memiliki berat 14 kg, sedangkan 2.000 kantong belanjaan kertas memiliki berat 127 kg. Untuk setiap tujuh truk yang mengirimkan kantong kertas, hanya diperlukan satu truk untuk jumlah kantong plastik yang sama. Selain itu dibutuhkan 91% lebih sedikit energi untuk mendaur ulang setengah kg plastik daripada yang dibutuhkan untuk mendaur ulang setengah kg kertas. Kantong plastik menghasilkan sampah 80% lebih sedikit daripada kantong kertas.

Menurut Keith Christman, Managing Director, Plastics Markets, di ACC, “Plastik memiliki peran penting dalam memberikan hasil yang berkelanjutan. Dengan menggunakan lebih sedikit bahan, plastik membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, timbulan limbah, serta menghemat energi ”.

Plastik membantu kita melindungi lingkungan dengan mengurangi limbah, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan menghemat energi di rumah, di tempat kerja, dan di jalan.

Insulasi plastik, sealant, dan produk bangunan lainnya membuat rumah kita jauh lebih hemat energi, sekaligus mengurangi biaya untuk pemanasan dan pendinginan.

Daur Ulang / Recycle

Plastik adalah bahan yang tahan lama, ringan, dan murah, yang dapat dengan mudah dicetak  dan dibentuk menjadi berbagai produk.

Oleh karena itu, plastik memiliki banyak sekali penggunaan dan produksinya telah meningkat tajam selama beberapa dekade terakhir. Namun, daya tahan plastik dapat memiliki efek merugikan pada lingkungan.

Terutama karena sejumlah besar plastik yang sudah tidak digunakan terakumulasi sebagai puing di tempat pembuangan sampah dan di habitat alami di seluruh dunia.

Akibatnya, daur ulang sampah plastik pasca konsumsi yang berkelanjutan tampaknya menjadi kebutuhan vital bagi lingkungan, karena membawa hasil positif seperti mengurangi penggunaan minyak, jumlah sampah yang perlu dibuang, emisi karbon dioksida, dan akhirnya ber-kontribusi pada pembangunan ber-kelanjutan.

Plastik tahan lama dan memberikan perlindungan dari kontaminan dan elemen. Ini mengurangi limbah makanan dengan mengawetkan makanan dan meningkatkan umur simpannya. Dengan kata lain, dampak lingkungan secara keseluruhan dari plastik lebih rendah daripada bahan alternatif, seperti karton besar dan logam berat.

Karena tahukah Anda ? bahwa ternyata, sampah yang berada di TPA sebanyak 70 persen bukanlah sampah plastik, melainkan sampah organik yang datangnya dari rumah makan cepat saji atau warung makan.

Jalan Keluar Keresahan Bumi

Banyak individu dan komunitas berkampanye menggunakan plastik yang berbahan dasar nabati, atau yang biasa disebut plastik ramah lingkungan. Plastik sejenis ini juga disebut dengan istilah ‘biodegradable’ yang artinya dapat terurai dengan alami dalam waktu relatif cepat, sehingga tidak mencemari lingkungan.

Masih sedikit yang mengetahui bahwa penggunaan plastik berbahan dasar ini justru menghasilkan energi yang jauh lebih besar dibandingkan jika memproduksi plastik biasa. Energi besar ini tentunya akan membahayakan ekosisitem bumi sebab dapat memperparah pemanasan global.

Plastik Biodegradable

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth, Inggris, plastik biodegradable tidak terurai setelah 3 tahun dibiarkan di alam bahkan masih utuh seperti sedia kala.

Keduanya meletakkan 4 jenis plastik (compostable, biodegradable, oxo-degradable, dan plastik polythene konvensional) pada 3 kondisi, dikubur di tanah, dibiarkan di udara terbuka, dan ditenggelamkan di laut.

Dalam jangka waktu tiga tahun setelah pertama kali penelitian dilakukan, semua plastik masih utuh seperti sedia kala.

Selain biodegradable, ada pula plastik oxo-degradable, plastik ini adalah jenis plastik yang ditambah senyawa agar dapat hancur saat terkena oksigen dalam waktu singkat. Namun, plastik oxo-degradable hanya akan hancur menjadi potongan-potongan kecil atau biasa kita sebut dengan mikroplastik, bukannya hancur terurai.

Mikroplastik ini akan tetap berada di alam, dengan bentuknya yang sangat kecil dan bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang, ini sangat berbahaya karena bisa dengan mudahnya terhirup atau masuk ke makanan dan minuman kita.

Pada kenyataannya, jenis plastik dengan klaim ‘ramah lingkungan’ banyak digunakan hanya sekali dan akhirnya dibuang, berakhir di alam, tempat pembuangan akhir, atau malah dibakar. Tak ada ubahnya dengan plastik konvensional pada umumnya.

Adapun strategi lain yang bisa dilakukan ialah kita bisa membangun platform terintegrasi bagi para pemangku kepentingan seperti pemerintah dan perusahaan industri untuk mengawasi dan memperbarui status dan data dasar limbah, baik di daratan maupun lautan.

Para pemangku kepentingan sering kali kesulitan untuk merumuskan strategi dan kebijakan yang tepat disebabkan kurangnya data mengenai ancaman dan risiko limbah plastik, termasuk data yang terkait dengan jumlah dan lokasi sampah plastik. Jika kita dapat memahami lokasi dan jumlah sampah yang ada, kita dapat menerapkan pengelolaan limbah yang lebih baik, dengan pendekatan preventif maupun reaktif.

Selanjutnya adalah membangun solusi ekonomi sirkular bagi sampah plastik dengan pendekatan sirkular untuk penggunaan kembali dan penuntasan sampah plastik secara efektif. Contohhnya pencampuran bahan daur ulang plastik ke dalam aspal untuk membangun jalan untuk memperbaiki jalan umum. Indonesia sendiri bekerja sama dengan Global Plastic Action Partnership (GPAP), untuk mengurangi 70 persen sampah plastik di laut pada tahun 2025 tanpa mengesampingkan faktor ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Beberapa strategi yang di terapkan, seperti mengumpulkan data pengelolaan limbah lokal dan membangun model evaluasi solusi seperti mengurangi pengemasan berlebih, membuat plastik daur ulang baru serta meningkatkan daur ulang dan pengumpulan sampah. Yang paling penting, model ini akan menghitung investasi yang dibutuhkan, batasan waktu, jejak lingkungan dan emisi gas rumah kaca serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Kita juga perlu menerapkan pengelolaan sampah plastik yang tepat di daratan, terutama yang dihasilkan oleh rumah-rumah dan kawasan industri. Langkah ini akan mengurangi jumlah sampah plastik di lautan secara signifikan. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah menerapkan kebijakan dan pendekatan untuk mengendalikan jumlah limbah di daratan, termasuk mendorong perusahaan untuk menggunakan kembali mendaur ulang. Perubahan sistem serta bagaimana kita mengembangkan kerangka kerja bisnis berdampak besar dalam pengembangan inovasi pengelolaan limbah.

Circular Economy Plastic Waste
Alur Sampah Plastik
Sampah pada Tempatnya

Namun, sebenarnya ada satu hal mudah yang bisa kita -semua orang di dunia ini- lakukan agar dapat bersinergi baik dengan plastik dan lingkungan. Menciptakan hidup yang rukun dengan plastik cukup dengan menggunakannya dengan baik dan bijak, dari sebelum sampai setelah pemakaiannya. Menyelaraskan jumlah produksi dan pemakaian plastik dengan tata kelola yang benar dari lingkungan terkecil sampai masal. Membangun koordinasi yang baik dari pihak-pihak yang terlibat pada setiap alur yang terjadi.

No Littering Waste

Sebab induk dari semua permasalahan ini bukankan dikarenakan sampah-sampah tersebut tidak berada pada tempat yang seharusnya? Tata kelola sampah menjadi PR dan tanggung jawab kita bersama saat ini. Sebenarnya pengelolaan sampah, khususnya plastik, tidaklah rumit. Semua dapat di daur ulang asalkan tidak tercampur di antara jenisnya. Paling tidak, masyarakat cukup memilah antara sampah organik yang bisa dikompos, anorganik yang bisa didaur ulang, dan residu yang tidak bisa diolah sama sekali.

Sekretaris jenderal Inaplas, Fajar Budiono

Pada dasarnya semua jenis plastik mudah didaur ulang asalkan jangan tercampur.

Pengelolaan sampah juga bisa menjadi sebuah model bisnis. Seperti yang dilakukan sekelompok pemuda di Bekasi, Jawa Barat. Adalah Waste4Change yang mengumpulkan dan memilah sampah sehingga dapat dijual kembali. Menurut penggagas Waste4Change, Bijaksana Junerosano, Waste4Change adalah memilihkan sampah rumah tangga yang sudah dipilah untuk dipilah kembali secara lebih detail. Hasilnya bisa diklasifikasikan menjadi lebih dari 30 jenis sampah.

Tidak perlu menunggu para ilmuan menemukan inovasi baru atau menunggu para pemegang kepentingan melakukan sebuah gerakan. Semua dimulai dari kesadaran pada diri sendiri sebab kepentingan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, tanggung jawab setiap individu yang tinggal di dalamnya.