Skip to main content

Sinar Mulia Plasindo Lestari

Urban Farming Pertanian Modern Masa Kini

Rooftop Urban Farming

Urban Farming adalah pemanfaatan ruang terbuka atau lahan yang dimiliki, menjadi lahan hijau untuk menghasilkan produk pertanian. Gerakan urban farming sendiri awalnya bermula di Kuba saat masa embargo atau larangan lalu lintas barang terjadi. Saat itu masyarakat di sana tidak bisa mendapatkan bahan pangan, sehingga mereka memulai urban farming. Jika pertanian biasanya dilakukan di wilayah pedesaan, urban farming memungkinkan pertanian dilakukan di wilayah perkotaan. Misalnya di halaman belakang, area kosong, lahan terabaikan, area pemukiman, dan lain sebagainya. Selain diterapkan pada pertanian dan perkebunan, urban farming juga mencakup peternakan dan budidaya. Dalam beberapa tahun terakhir, urban farming menjadi trend dan kegiatan yang banyak diminati oleh masyarakat khususnya di perkotaan. Berawal dari inisiasi segelintir komunitas pecinta lingkungan yang bergerak sendiri, kini urban farming menjelma menjadi tren gaya hidup. Urban farming beriringan dengan keinginan masyarakat kota untuk menjalani gaya hidup sehat. Hasil panen dari urban farming lebih menyehatkan karena sepenuhnya menerapkan sistem penanaman organik yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintesis. Menerapkan Urban Farming Urban, sesuai namanya pertanian jenis ini dilakukan oleh masyarakat di perkotaan. Urban farming ini bisa diterapkan di mana saja, seperti di area perumahaan ataupun perkantoran. Di manapun, selama ada lahan kosong atau ruang tak terpakai, siapapun bisa menerapkan urban farming. Umumnya masyarakat memanfaatkan area balkon, atap rumah, dan pekarangan rumah untuk mereka tanami. Beberapa jenis tanaman yang umum dibudidayakan dalam urban farming ialah sayuran hijau seperti sawi, kangkung, bayam, mentimun, dan pokchoy; tanaman rempah seperti jahe dan serai; umbi-umbian seperti singkong dan ketela; hingga buah-buahan seperti tomat dan anggur. Urban farming seperti budidaya ikan atau beternak ayam cocok diterapkan pada lahan yang lebih luas. Metode urban farming yang biasanya digunakan adalah metode hidroponik, vertikultur, akuaponik, dan wall gardening, yang bisa dilakukan di tempat dengan area yang terbatas. Hidroponik Vertikultur Akuaponik Manfaat Urban Farming Berikut adalah manfaat dari penerapan urban farming : Menghasilkan produk pertanian yang lebih bergizi karena waktu perjalanan distribusinya lebih pendek Menghemat anggaran belanja rumah tangga Mengurangi sampah dapur karena dapat dijadikan pupuk kompos untuk penanaman Membantu konsumen mengurangi “jejak makanan” mereka dengan memberi mereka kesempatan untuk membeli makanan yang ditanam sendiri atau dalam komunitas Meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan yang dapat diproduksi dengan sumber daya yang paling sedikit Pertanian perkotaan menciptakan lapangan kerja (dan sukarelawan) di kota-kota besar, di mana kemiskinan dan kelaparan sering menjadi masalah yang terus-menerus Merangsang ekonomi lokal dengan mengedarkan pendapatan ke seluruh wilayah Menyatukan orang dengan minat yang sama karena sebagian besar proyek pertanian perkotaan memerlukan organisasi sosial tingkat tinggi Menurunkan populasi orang di kota-kota yang menderita malnutrisi dan berbagai masalah kesehatan terkait makanan lainnya Memungkinkan produk segar dan bergizi tersedia bagi masyarakat yang belum pernah mengaksesnya Membantu mengoreksi hal ini dengan menurunkan harga pangan sehat dengan menghilangkan perantara dan meningkatkan kesempatan anggota masyarakat yang membutuhkan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan pangan Meningkatkan kesehatan sistem pangan kita di masa depan. Memberikan lebih banyak ruang hijau Jenis Urban Farming yang Sering Diterapkan crtto istock photo Backyard Garden Sesuai namanya, jenis urban farming ini memanfaatkan lahan pekarangan di belakang rumah. Jenis ini banyak diterapkan di perumahaan daerah Ohio, Amerika Serikat. Keuntungan dari jenis perkebunan yang dilakukan di pekarangan rumah adalah kemudahan untuk panen dan sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan. crrto istock photo Street Landscaping Jenis isi memanfaatkan lahan di area sarana transportasi dan publik seperti taman dan jalan. Urban farming jenis ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga mempercantik juga memberikan kesan yang lebih rindang dan menambah jumlah ruang hijau di perkotaan. crtto istock photo Forest Gardening Forest gardening memanfaatkan lahan hutan untuk membangun perkebunan secara lebih modern. Jenis ini memadukan sayur-sayuran, buah-buahan, bahkan peternakan sebagai cara memproduksi bahan makanan di lingkungan urban. Penanaman hutan juga dapat menjadi bagian dari kegiatan penghijauan, yang memungkinkan penanaman pohon sebagai langkah mitigasi pemanasan global di perkotaan. crrto istock photo Green House Awalnya, membangun greenhouse ini membutuhkan ruang yang luas, tetapi beberapa inovasi telah mengembangkan greenhouse dalam berbagai bentuk. Ada beberapa tipe yang dapat dikembangkan berdasarkan tujuan tanaman apa yang ingin dibudidayakan. Jenis ini juga menyediakan kesempatan yang lebih luas untuk petani karena lingkungan tumbuh untuk pertanian dapat diatur sesuai kondisi yang dibutuhkan oleh hasil budidaya. crrto istock photo Rooftop Garden Jenis urban farming yang satu ini memanfaatkan area atap untuk berkebun. Rooftop garden adalah bukti bahwa ruang terbatas tidak menjadi hambatan untuk bercocok tanam di perkotaan. Keuntungan jenis ini adalah bagian bawah tanam akan terasa lebih sejuk. Tipe rooftop garden dapat meminimalisasi suhu panas dan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. crrto istock photo Vertical Garden Jenis ini hanya membutuhkan alas vertical seperti dinding untuk menanam beberapa jenis tanaman yang mendukung, terutama jenis tanaman rambat. Selain tidak membutuhkan banyak ruang, metode ini juga cukup ramah lingkungan, membuat udara semakin bersih, dan membuat ruangan terlihat lebih sejuk. crtto istock photo Aquaponik Aquaponik mengintegrasikan sistem akuakultur (memelihara ikan) dan hidroponik (tanaman tanpa tanah). Praktik berkebun secara akuaponik biasanya diaplikasikan karena tersedianya peternakan kolam ikan. Akuaponik termasuk teknik adaptatif di mana dengan metode yang benar, jenis urban farming ini dapat memelihara tanaman secara efektif dan memberikan protein alternatif pada tanaman yang ramah lingkungan. Tantangan Urban Farming Ukuran luas pekarangan diperkotaan terbilang masih begitu banyak yang sempit. Keterbatasan lahan ini akan menghambat dalam pemanfaatan ruangan untuk pertanian. Penggunaan lahan untuk menerapkan urban farming tidak hanya memperhatikan adanya dan seberapa luas lahannya saja, tetapi juga faktor lain-lain yang menunjang proses pengelolaan dan pemeliharaan lahan dan hasil produksi darii pertanian nanti. Umumnya jarak antar bangunan di perkotaan begitu padat dan ‘dempet’, menyebabkan terbatasnya pasokan sinar matahari dan terhambatnya sirkulasi udara untuk proses budidaya. Selain itu, lahan yang dimanfaatkan di wilayah perkotaan tidak selalu berstatus milik pribadi. Contohnya untuk urban farming berjenis street landscaping. Lahan yang digunakan adalah lahan yang statusnya milik publik, pemerintah, atau suatu kelompok/lembaga swasta. Kondisi ini akan mempengaruhi terhadap keberlanjutan usaha masyarakat dan pembinaan yang diberikan oleh pemerintah ataupun swasta dan lembaga. Tantangan lainnya dalam menerapkan urban farming ialah pengetahuan pelaku. Umumnya, dalam urban farming, para pelakunya bukanlah seseorang yang berlatar belakang pertanian. Selama ini, para pelaku yang melakukan urban farming cendering belajar secara otodidak dari