Kemasan kertas maupun kemasan plastik, keduanya sama-sama sering dikonsumsi oleh kita.
Masyarakat Indonesia dikenal akan perilaku konsumtifnya, terutama para shopper yang berbelanja di retail. Dari tahun ke tahun populasi masyarakat terus bertambah diikuti dengan daya beli yang meningkat. Perkembangan teknologi juga turut andil menjadi penyebab dari meningkatnya euphoria berbelanja.
Semenjak maraknya marketplace bertebaran di Indonesia, masyarakat menemukan berbagai kemudahan dalam berjualan maupun berbelanja. Mulai dari penawaran menarik seperti promo sampai diskon, membuat semakin membludaknya budaya berbelanja pada masyarakat. Selain itu juga jarak sudah tidak menjadi batas lagi dalam membeli barang yang diinginkan. Semua tersedia dari berbagai tempat yang mana bisa didapatkan dengan sangat mudah.
Bahkan datangnya pandemi sama sekali tidak menghentikan masyarakat untuk tidak berbelanja. Keberadaan pandemi hanya menggeser metode yang dipakai menjadi serba online. Masyarakat tentu akan lebih memilih belanja via online dibandingkan datang langsung ke tokonya.
Aktivitas jual beli dalam perbelanjaan ini tidak akan terlepas dari “pembungkus”. Apapun jenis barang atau produk yang dibeli, pasti kita akan mendapatkannya sudah dikemas dengan rapi dan menarik.
Perpindahan metode belanja yang menjadi serba online tersebut mempengaruhi tingkat kebutuhan terhadap pembungkus. Semakin jauh perjalanan sebuah produk untuk sampai ke tangan konsumen, semakin banyak dan variatif pula pembungkus yang digunakan. Semakin besar produk yang dijual makan semakin besar pula volume pembungkus yang dipakai.
Macam-macam Kemasan
Kemajuan teknologi membuat kebutuhan manusia semakin kompleks. Menciptakan berbagai inovasi produk demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin variatif. Termasuk jenis pembungkus yang semakin hari semakin dikembangkan ragamnya. Ada dua jenis golongan besar yang selama ini kita ketahui digunakan untuk pembungkus. Yaitu kemasan plastik dan kemasan kertas.
Pembungkus plastik yang seringkali kita jumpai, terutama saat berbelanja online adalah kantong plastik, plastik bening , karung, dan bubble wrap. Kantong ini banyak dipilih oleh penjual yang menyediakan produk fashion, kecantikan, gadget, perlengkapan rumah tangga, mainan, produk kesehatan, dan lain-lain.
Sedangkan pembungkus kertas yang sering kita jumpai adalah, kantong kertas , karton, dan dus. Kantong ini biasanya dipilih karena membuat tampilan menjadi lebih estetik, dan banyak digunakan oleh penjual, makanan kering, aksesoris, juga dipakai di beberapa swalayan.
Kantong plastik dan kertas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Seperti yang kita ketahui, kantong plastik sifatnya ringan, lebih kuat dan tahan air. Ia bisa melindungi produk dari air dan benturan pada kantong. Bubble wrap sendiri dapat menjaga produk yang dikemasnya agar tidak mudah rusak. Namun, kantong plastik ini sulit terurai di lingkungan terbuka.
Sedangkan kantong kertas, memiliki harga yang lebih murah dan displaynya mudah didesain. Kantong ini ramah lingkungan karena mudah terurai.
Kemasan plastik atau kertas ?
Semakin maraknya pembahasan terkait isu lingkungan dan ajakan untuk mengurangi penggunaan bungkus plastik, banyak toko online yang mengemas paket mereka dengan bahan kertas, bukan lagi dengan plastik. Kegiatan belanja online telah meningkatkan sampah kemasan sekali pakai yang digunakan untuk mengantar pesanan.
Plastik baru terurai paling cepat lima abad dari waktu pembuangannya. Artinya, sampah plastik yang pernah dibuang pada saat berbelanja online akan tetap ada sampai bertahun-tahun ke depan. Inilah kenapa menggunakan plastik disebut juga “nyampah”. Jika dibandingkan dengan plastik, kertas hanya butuh waktu antara dua sampai enam minggu untuk terurai.
Namun ternyata kantong kertas belum solutif loh. Pembungkus berbahan kertas pun bisa membahayakan lingkungan. Jadi, antara kantong plastik sekali pakai dan kertas, sebenarnya mana yang lebih ramah lingkungan ? Mari kita pahami dari aspek yang lebih luas.
1. Proses Pembuatan
Rasanya tidak mungkin masyarakat dewasa ini belum tahu, jika kertas itu merupakan hasil olahan kayu. Sumber bahan baku dari alam inilah yang membuat kertas mudah terurai di lingkungan terbuka, sehingga tidak heran jika bahan yang satu ini dijuluki ramah lingkungan.
Pohon memang merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Namun, apabila produksi kertas tidak dikelola dengan baik, lama-lama akan menjadi penggundulan hutan secara global. Pasokan oksigen pun akan berkurang sebab jantung dunia gundul. Selain membutuhkan energi 3,4 kali lebih besar, pembuatan kantong kertas membutuhkan air sebanyak 4,7 kali lipat lebih banyak daripada untuk membuat kantong plastik.
Memang benar, kita bisa melakukan pelestarian melalui program reboisasi atau menanam 1000 pohon yang selalu digaungkan oleh banyak kelompok. Yang menjadi masalah adalah, apakah volume kebutuhan pohon untuk diproduksi dengan yang tersedia saat ini seimbang ? Belum lagi proses tumbuh tanam yang memerlukan jangka waktu sangat lama agar bibit menjadi pohon besar. Sistem tebang tanam ternyata masih berat pada sisi tebangnya.
Sementara itu, plastik dibuat dari bahan bakar yang terbentuk dari binatang atau tumbuhan yang hidup dan mati pada jutaan tahun yang lalu. Tidak seperti pohon, sumber daya alam ini tidak bisa diperbarui. Namun, sekarang ini banyak juga kantong plastik yang dibuat dari produk sampingan produksi gas alam. Plastik memiliki bahan baku alternatif.
2. Efek Gas Rumah Kaca
Pabrik pembuat kantong kertas menjadi penyumbang gas rumah kaca (GRK) terbesar keempat di dunia. Sementara itu, GRK yang dihasilkan dari pembuatan kantong plastik sebenarnya tiga kali lebih rendah. Pembungkus kertas memiliki bobot yang lebih berat dan berisi dibandingkan pembungkus plastik.
Hal ini mengakibatkan jejak karbon yang dihasilkan juga lebih tinggi saat kantong kertas didistribusikan. Jejak karbon di sini adalah jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke lingkungan karena energi yang digunakan.
Produksi kantong kertas juga menghasilkan kandungan bahan kimia beracun yang lebih tinggi dibandingkan produksi kantong plastik sekali pakai.
Memang, penelitian yang dilakukan terkait perbandingan produksi pembungkus kertas dan pembungkus plastik melahirkan hasil yang sedikit berbeda.
Namun, semua penelitian tersebut yakin bahwa ada dampak lingkungan dari pembuatan kantong kertas yang tidak ditemukan dalam pembuatan kantong plastik.
3. Penggunaannya
Untuk mendapatkan klaim ‘lebih ramah lingkungan dibanding plastik sekali pakai’, kantong kertas setidaknya harus bisa dipakai ulang (reuse) sebanyak empat kali. Jika dilihat dari ketahanan fisiknya, kantong kertas sangat rapuh dan akan menjadi sulit untuk menggunakannya berkali-kali.
Sifat mudah sobek, tidak tahan air, dan hanya bisa digunakan untuk bahan-bahan kering. Inilah yang menjadi tantangan untuk memakai pembungkus kertas secara berulang kali. Pembungkus kertas biasanya digunakan kembali untuk menyimpan berkas-berkas lama, bungkus paket, atau sebagai sampul buku.
Sementara itu, pembungkus plastik bersifat fleksibel, tahan lama, kuat, ringan, dan tahan air. Pengguna bisa dengan mudah menggunakannya berkali-kali. Misalnya, kantong plastik dari bekas belanjaan bisa dijadikan kantong sampah di rumah, kantong jas hujan, wadah makanan yang berkuah, wadah pakaian bekas, atau lainnya.
4. Daur Ulang
Kemasan kertas bisa didaur ulang jika sudah tidak dapat digunakan lagi. Sampah kertas akan diproses dan didaur ulang menjadi kertas kembali. Kertas memiliki tingkat daur ulang yang lebih tinggi dibandingkan plastik. Poin ini yang diungguli oleh kebanyakan orang. Walaupun seharusnya dengan catatan, selama kita bisa memastikan apakah benar sampah kertas kita akan didaur ulang. Energi yang dibutuhkan untuk mendaur ulang kantong kertas juga lebih kecil daripada membuat kantong kertas baru.
Kemasan plastik ada yang bisa didaur ulang dan ada yang tidak, tergantung dari jenis plastik yang digunakan. Jenis-jenis plastik yang dapat didaur ulang bisa dilihat pada penjelasan 7 RIC.
Walaupun tidak semua, kebanyakan kantong plastik dapat didaur ulang menggunakan mesin khusus. Untuk prosesnya sendiri terbilang tidak sederhana. Hal inilah yang menjadi sebab mengapa kemasan plastik seringkali hanya berakhir di pembuangan akhir begitu saja.
Pada intinya, jika kantong kertas dijadikan kemasan sekali pakai seperti plastik, dampak lingkungan akibat pembuatan dan transportasinya bisa menjadi lebih tinggi daripada dampak lingkungan dari plastik sekali pakai
Kemasan mana yang harus kita pilih ?
Yang perlu kita pilih ialah sikap bijak ketika menggunakan kemasan baik kertas maupun plastik. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing—masing. Upaya kita adalah mengurangi penggunaan sekali pakai pada keduanya agar kuantitas sampah yang terbuang berkurang. Dan memaksimalkan serta mendukung program daur ulang sampah.
Misalkan dari hal sederhana yaitu memilah sampah. Membuang sampah kemasan plastik dan kertas terpisah dari sampah dapur atau sampah basah. Hal ini bertujuan agar sampah kering tetap bersih dan memudahkan daur ulang nantinya. Bagus lagi jika kita menyalurkan sampah-sampah plastik kepada badan atau pihak pendaur ulang.
Dengan kita membaca artikel ini pun kita telah membangun kesadaran akan bahayanya dari penggunaan kemasan sekali pakai secara berlebihan. Lebih dari itu, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
3 Comments
Thank you so much!
nice information
Thank’s ! Please share for a better environment.