Skip to main content

Sinar Mulia Plasindo Lestari

Generasi Milenial dan Perubahan Minat: Mengapa Pertanian Kehilangan Pesona?

Gen Milenial

Pertanian memiliki sejarah yang panjang terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian Indonesia. Berlimpahnya kekayaan alam, juga posisi negara yang terletak pada daerah tropis, membuat Indonesia dianugerahi tanah yang subur. Banyak penduduk yang hidup dengan bertani dan berkebun. Sektor ini menjadi zona utama dan begitu diandalkan, membuat Indonesia dijuluki sebagai negara agraris. Petani menjadi profesi yang penting karena banyak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Namun, dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang, Indonesia diprediksi akan mengalami krisis jumlah petani. Jumlah Pekerja di Sektor Pertanian Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terus menurun jumlahnya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir jumlah pekerja di sektor pertanian turun dari 33% menjadi 29%. Krisis terjadi karena pembangunan sektor ini menghadapi masalah regenerasi SDM yang tidak berjalan dengan baik. Minat dan partisipasi generasi muda dalam bidang agrikultur terus menurun. Hal inilah yang menyebabkan sektor tersebut di Indonesia terancam terkontraksi. Stigma “Tani” Jika diamati, generasi muda di Indonesia nyaris tidak ada yang memiliki minat terhadap dunia tani atau agrikultur. Dunia tani memiliki stigma yang kurang baik di mata anak-anak muda. Dibandingkan sektor lain, sektor ini dianggap tidak memiliki masa depan yang baik. Keadaan ini membangun persepsi bahwa bertani adalah pekerjaan yang kuno, dan mereka tidak mungkin tertarik terhadapnya. Masalah ini cukup mengkhawatirkan jika tidak diatasi, jumlah pekerja kelompok usia muda tidak cukup untuk melanjutkan proses produksi pangan yang dilakukan kelompok usia tua saat ini, baik karena pensiun maupun meninggal dunia. Faktor Penentu Minat Gen Milenial Ada beberapa faktor yang menyebabkan sektor tani menjadi tidak diminati. Faktor Pertama : Upah Upah buruh di sektor ini tergolong rendah. Mengutip data BPS 2021, upah nominal harian buruh tani nasional pada Oktober 2021 yaitu Rp57.009,00 per hari; jauh lebih rendah dibanding upah buruh di sektor lainnya. Faktor Kedua : Alih Fungsi Lahan Faktor kedua yang dihadapi sektor ini ialah alih fungsi lahan tani menjadi pemukiman maupun kawasan industri. BPS melaporkan, berdasarkan hasil Survei KSA (Kerangka Sampel Area), pada tahun 2021, luas panen padi mencapai sekitar 10,41 juta hektar atau mengalami penurunan sebanyak 245,47 ribu hektar (2,30 persen) dibandingkan tahun 2020. Alih fungsi lahan menyebabkan potensi kehilangan pangan yang besar setiap tahun karena berkurangnya luas areal. Menyambung hasil survey KSA sebelumnya, produksi padi pada tahun 2021 yaitu sebesar 54,42 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras tahun 2021 mencapai sekitar 31,36 juta ton, atau turun sebesar 140,73 ribu ton (0,45 persen) dibandingkan dengan produksi beras tahun 2020. Akibatnya, Indonesia di masa depan akan mengalami kekurangan pangan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dan solusi yang harus dilakukan adalah meningkatkan kuantitas impor pangan. Akibatnya, hal ini akan mengganggu kedaulatan pangan maupun kedaulatan nasional pada jangka panjang, karena semakin besarnya ketergantungan pada negara lain. Faktor Ketiga : Urbanisasi Urbanisasi tentu dapat meningkatkan perekonomian. Namun, urbanisasi yang terlalu tinggi akan mempengaruhi agrikultur. Banyak orang meninggalkan desa untuk memilih menentukan nasib di kota. Laju urbanisasi Indonesia tergolong sangat pesat. Data proyeksi penduduk BPS menunjukkan pada tahun 2020 sebanyak 56,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan dan diprediksi jumlahnya akan semakin meningkat menjadi 66,6% di tahun 2035. Bank Dunia juga memperkirakan di tahun 2045 sebanyak 220 juta orang atau 70% dari penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan di perkotaan adalah dengan adanya urban farming. Namun hingga saat ini jika dilihat dari skala, jelas tidak sebesar pertanian konvensional. Urban farming juga masih dianggap sebagai gaya hidup daripada sebagai sesuatu yang urgent. Belum lagi lahan di perkotaan yang kosong banyak yang dikonversi menjadi kawasan hunian maupun industri. Tak bisa dipungkiri, Indonesia memang benar darurat tani. Kendala Pertanian Nono Rusono dari Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas, menyebutkan beberapa kendala yang dihadapi generasi kekinian dalam bertani, seperti akses terhadap sumber lahan yang terbatas, akses terhadap pelayanan finansial juga sedikit, dan minimnya akses terhadap pasar serta teknologi baru untuk berpartisipasi dalam rantai nilai tambah agrikultur. Ini yang menyebabkan generasi muda melihat “tani” menjadi sektor yang tidak menjanjikan. Belum lagi menurunnya minat lulusan sarjana pertanian yang mau bekerja di sektor ini. Impresi banyaknya generasi kekinian yang “menghindar” dari profesi petani ini harus diperhatikan secara menyeluruh. Tidaklah bijak melarang anak-anak petani untuk memilih profesi lain yang lebih menjanjikan bagi kesejahteraan diri dan keluarganya, ketika petani sendiri merasa bahwa kehidupan mereka susah dan tidak sejahtera. Perlu dicari cara atau konsep yang tepat untuk meningkatkan minat generasi saat ini agar mau terjun ke sektor ini. Faktor lingkungan strategis nasional seperti tingkat pendidikan, informasi media, gaya hidup dan sosial budaya; juga telah memberikan kontribusi terhadap perubahan persepsi dan sikap generasi kekinian terhadap sektor ini. Selain itu, ada juga faktor internasional seperti kerjasama ekonomi, penanaman modal asing, dan perbedaan harga produk agrikultur antar pasar domestik dengan internasional. Faktor-faktor tersebut bisa memberikan peluang terhadap tingkat minat generasi milenial atau kekinian untuk terjun ke sektor ini, namun ada pula yang malah menjadi kendala. Antara Dunia Milenial Dan Dunia Tani Ciri gaya hidup generasi saat ini adalah serba modern, cepat, dan cenderung hedonis. Mereka lebih menikmati aktivitas yang memberikan keseruan dan selalu terkoneksi dengan media sosial. Hidup mereka  lebih konsumtif dan sangat komunikatif di media sosial. Menyukai segala sesuatu yang mudah dikagumi lewat rupa sehingga bisa dibagikan melalui media sosial. Generai saat ini juga tertarik untuk memiliki status keanggotaan dalam suatu kelompok atau komunitas. Sedangkan wajah pertanian yang selama ini digambarkan adalah kegiatan lapangan yang merepotkan dan melelahkan. Bertani adalah dunia yang identik dengan kesan kotor, kumuh, dan kelompok yang terpinggirkan. Berita yang diangkat tentang hal ini pun kebanyakan adalah berita yang kurang membanggakan dari seseorang yang berprofesi sebagai petani. Contohnya seperti berita gagal panen, lahan terkena banjir, kekeringan, serangan hama, dan kemiskinan petani. Berita-berita seperti inilah yang memperkuat gambaran betapa profesi petani berat untuk dijalani, penuh resiko, dan tidak bisa menjanjikan masa depan yang cerah. Jika Sektor Tani Tidak Memiliki Penerus Pada faktanya, dari sisi profit margin, usaha pada sektor ini lebih tinggi daripada sektor lainnya jika bisa mengendalikan risiko usaha. Ya, masalahnya adalah kemampuan pengendalian risiko usaha tersebut. Risiko bisa dikendalikan melalui inovasi, pembaruan teknologi, pengetahuan pemberantasan hama,

CV Tidak Lolos ? Hindari 9 Kesalahan Yang Dilakukan Pelamar

Berkas Lamaran Kerja

Tahun sudah berganti semenjak pandemi datang ke negeri ini. Walaupun kondisi terlihat berangsur membaik, namun faktanya pandemi masih belum juga pergi. Banyak sekali yang terdampak dari berbagai aspek. Dan yang paling terasa selain dari segi kesehatan ialah tentu dari segi ekonomi. COVID-19 juga telah menimbulkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi bagi dunia usaha sehingga berujung pada PHK, serta pemotongan gaji dan tunjangan. Para lulusan baru pun semakin kesulitan mencari pekerjaan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Akhmad Akbar Susamto memperkirakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2021 diperkirakan akan naik ke kisaran 7,15 persen-7,35 persen. Bahkan berdasarkan survey yang dilakukan oleh JobStreet Indonesia -salah satu platform untuk mencari pekerjaan- menyebutkan bahwa 52% masyarakat Indonesia mengalami PHK, terutama mereka dengan tingkat edukasi yang rendah dan generasi muda. 44% pekerja merasakan resiko pekerjaan mereka akan digantikan dengan sistem otomatis. Semakin banyak orang yang menganggur, semakin banyak pula orang yang mencari pekerjaan. Pun semakin tinggi tingkat persaingan didalamnya. Sayangnya, hal tersebut tidak diikuti pula dengan naiknya angka lowongan kerja yang tersedia. Sulitnya mencari pekerjaan di tengah pandemi ternyata memang wajar. Analisis big data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lowongan kerja memang menyusut. Jumlah iklan lowongan Januari 2020 sempat mencapai 12.168, lalu turun menjadi 11.103 (Maret), 6.134 (April), dan 3.726 (Mei). Melihat perubahan di pasar pekerjaan selama pandemi Covid-19, 75% masyarakat Indonesia bersedia untuk belajar dan mengembangkan diri demi pekerjaan baru dan 67% meluangkan banyak waktu untuk belajar. Dibandingkan tahun lalu, angka kandidat yang aktif mencari kerja meningkat 11% menjadi 51%, dan angka kandidat pasif menurun 8% menjadi 49%. Jangan asal mengirim lamaran pekerjaan ! Banyak sekali para pencari kerja yang mencoba peruntungan dalam hal melamar. Baik pada posisi yang sesuai dengan keahlian mereka ataupun yang tidak sesuai dengan bermodalkan pengalaman yang ada. Hanya sedikit yang bisa lolos dan tidak sedikit pula yang bertemu dengan kegagalan. Ada pepatah mengatakan bahwa “Kegagalan adalah Kesuksesan yang Tertunda”. Tentunya kalimat ini adalah sebuah kebenaran yang akan terjadi untuk orang-orang yang senantiasa memperbaiki dirinya dan belajar dari kegagalan yang pernah ia dapatkan. Pun sama halnya ketika melamar atau mengirim CV lamaran kerja kepada suatu perusahaan. Sudah berapa banyak lamaran kerja yang terkirim ? Sudah berapa kali panggilan yang datang ke ponselmu ? Sudah berapa kali undangan interview yang didapatkan? Dan dari semua hal tersebut, sudah berapa kali kegagalan yang datang ? Ternyata ada beberapa hal penting yang terkesan sepele namun sebenarnya sangat berpengaruh kepada lolos atau tidaknya lamaran kerja yang masuk ke tangan Recruiter. Dan seringkali hal-hal ini luput dari perhatian para pelamar. Mungkin juga, inilah yang menyebabkan dari sekian banyak lamaran yang dikirim, belum ada satu pun yang mendatangkan panggilan. Berikut adalah kesalahan yang harus dihindari saat melamar kerja. 1. Tidak mencantumkan subjek dengan benar Masih ada sebagian dari pelamar yang lupa menuliskan subjek email saat mengirimkan lamaran kerja. Padahal, hal tersebut sangat penting. Subjek berfungsi untuk memudahkan penerima email menangkap informasi yang ingin di sampaikan karena judul email akan langsung membuka pikiran penerima akan topik yang di bahas. Lupa menulis subject atau menulisnya sembarangan bisa berakibat fatal. Subject email merupakan hal pertama yang dilihat oleh Recruiter sehingga hal tersebut akan menentukan apakah Recruiter harus membuka email tersebut atau tidak. Yang berbahaya ialah jika Recruiter menganggapnya sebagai email spam atau dihapus. Recruiter juga mungkin akan tidak mengapreasiasi lamaran dan pada akhirnya pelamar tidak akan diundang ke athap seleksi selanjutnya oleh perusahaan. Jadi pastikan untuk selalu mengisi subjek email dengan benar sesuai dengan aturan atau syarat yang ditentukan pada informasi lowongan pekerjaan yang dilamar. 2. Tidak mengisi body email atau cover letter. Isi email ini merupakan “sapaan” untuk Recruiter sebelum mereka membaca CV pelamar. Karena itu, isi body email harus ditulis secara menarik. Menuliskan body email dapat memberikan kesan yang baik kepada Recruiter untuk melihat CV yang dilampirkan. Menulis body email tidak dapat dilakukan secara asal-asalan. Sedangkan untuk cover letter sendiri bisa diisi dengan mempromosikan diri secara singkat. Isi cover letter dengan kesesuaian jurusan, pengalaman kerja yang relevan, pelatihan dan sertifikasi yang pernah diikuti atau penghargaan.  Singkatnya ini seperti highlight dari isi CV yang menekankan relevansi dengan posisi yang dilamar. Jika cover letter sudah relevan, Recruiter kemungkinan besar akan lanjut melihat lebih lengkap CV yang dicantumkan. Jadi pembuatan cover letter ini penting sebagai impresi awal. 3. CV minim informasi atau terlalu berlebihan informasi. Saat mengirim surat lamaran, buatlah informasi yang lengkap tentang diri. Sesuai namanya, Curriculum Vintae atau Daftar Riwayat Hidup adalah dokumen yang memberikan gambaran mengenai pengalaman seseorang dan kualifikasi lainnya. Jelas, pihak Recruiter menggunakan dokumen ini sebagai pengukur seberapa relevan si pelamar dengan kualifikasi yang mereka perlukan. Hal ini juga menjadi salah satu bahan pertimbangan apakah pelamar layak untuk bekerja di perusahaannya. Namun, menulis CV juga jangan disamakan dengan lomba mengarang. Tentunya Recruiter mendapatkan begitu banyak surat lamaran, maka dari itu sajikan CV secara singkat namun jelas. Upayakan mencantumkan dalam bentuk poin-poin ketimbang dalam bentuk paragraf. 4. Mengirim lamaran dan CV yang sama untuk semua perusahaan. Jangan mengirimkan lamaran yang sama ke setiap perusahaan yang dilamar. Setiap perusahaan tentu memiliki kriteria pelamar tertentu serta persayaratan yang berbeda. Yang harus diperhatikan pada saat melamar adalah isi beserta layout CV yang akan dikirim. Jika perusahaan yang dilamar adalah perusahaan industri kreatif, ada baiknya pelamar membuat CVnya semenarik mungkin dengan desain yang unik. Dan jangan lupa sertakan portofolio. Adapun sebaliknya jika perusahaan adalah industri umum, pelamar sebaiknya membuat CV yang formal dengan susunan tata bahasa yang baik dan benar, terutama jika itu adalah untuk perusahaan besar. Lampirkan pula dokumen atau berkas-berkas yang legal. Intinya pelamar harus senantiasa meriset perusahaan yang akan dilamar terlebih dahulu. Dari hal ini, Recruiter akan mengukur seperapa niat pelamar dan bagaimana cara mereka menyesuaikan diri dengan perusahaan yang mereka lamar. 5. Menggunakan foto selfie. Dalam hal melamar kerja, biasanya pihak perusahaan mencantumkan persyaratan pas foto. Jika diminta seperti itu, jangan berikan foto yang terkesan casual, tapi gunakan foto yang tampak profesional seperti memakai kemeja atau bahkan foto saat anda mengenakkan jas. Baik untuk pas foto terpisah maupun yang berada di dalam CV pelamar. Hindari memberikan foto yang biasa dijadikan foto profil di media sosial,

ARMY ! Ini Fakta Lukisan Member BTS dari Limbah Plastik

Lukisan Member BTS

Mendengar kata sampah, pasti kebanyakan dari kita langsung teringat dengan tumpukkan plastik berbagai warna dan juga makanan-makanan busuk yang teronggok di kawasan pasar, pinggir jalan, dan beberapa lahan kosong lainnya; yang kerap kali dijadikan tempat pembuangan illegal. Plastik bekas pakai umumnya akan menjadi limbah dan menumpuk di tempat sampah. Pengelolaan sampah sendiri di Negara kita sistemnya masih belum berjalan dengan baik. Jika system pengelolaan masih seperti itu, sampah-sampah plastik hanya akan berakhir di tempat pembuangan akhir. Menurut data Sustainable Waste Indonesia (SWI), kurang dari 10% sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50% tetap berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Manusia sebenarnya sudah lama mengenal daur ulang dan pengolahan sampah. Namun, isu ini sering kali dilupakan dan dianggap tidak penting karena masyarakat merasa bahwa daur ulang sampah tidak membawa manfaat yang langsung dirasakan dalam kehidupan mereka. “Ada lebih dari 380 TPA di Indonesia setidaknya 8.200 hektar yang sebagian akan atau sudah penuh,” kata Dini Trisyanti, Direktur SWI dalam temu media di Jakarta, pekan lalu. Dari 380 TPA yang beroperasi banyak makin sempit. Juga sulit menemukan lahan baru untuk TPA karena penolakan masyarakat sekitar.“Akan lebih mudah jika sampah yang akan ditaruh di TPA sudah terpilah.” Memilah dan memisahkan sampah berdasarkan kategorinya dan mendaur ulang jenis sampah yang bisa di daur ulang bisa dilakukan dari setiap rumah. Hal ini menjadi gerakan kecil yang bisa dilakukan banyak orang untuk mengurangi sampah terbuang ke lingkungan sekitar. Mengelola Sampah Plastik Adapun Edy Suranta Ginting, adalah seorang seniman asal Medan yang mampu memanfaatkan sampah-sampah plastik dan mengolahkan menjadi sebuah karya seni yang menakjubkan. Sampah yang mulanya tak bernilai disulapnya menjadi lukisan bernilai tinggi. Melalui video di akun TikTok-nya, Edy kerap membagikan aksinya membuat lukisan dari sampah-sampah plastik yang sebelumnya ia kumpulkan. Bahkan Edy seringkali mendapatkan permintaan dari beberapa public figure untuk melukis wajah mereka. Dan yang sangat ramai diperbincangkan belakangan ini adalah lukisan wajah dua orang member BTS –boygroup asal Korea Selatan- yaitu Kim Seokjin (a.k.a Jin) dan Min Yonggi (a.k.a Suga). Melalui video di akun TikTok-nya, Edy kerap membagikan aksinya membuat lukisan dari sampah-sampah plastik yang sebelumnya ia kumpulkan. Bahkan Edy seringkali mendapatkan permintaan dari beberapa public figure untuk melukis wajah mereka. Dan yang sangat ramai diperbincangkan belakangan ini adalah lukisan wajah dua orang member BTS –boygroup asal Korea Selatan- yaitu Kim Seokjin (a.k.a Jin) dan Min Yonggi (a.k.a Suga). https://smpl.co.id/wp-content/uploads/2021/09/1632118070770.mp4https://smpl.co.id/wp-content/uploads/2021/09/1632118070774.mp4https://smpl.co.id/wp-content/uploads/2021/09/1632114933264.mp4 Karyanya tersebut sempat menjadi polemik di kalangan fans BTS, yang dikenal dengan sebutan ARMY. Beberapa sangat mengapresiasi hasil tangannya yang sangat menakjubkan tersebut. Namun, ada pula sebagian fans yang menganggap bahwa seniman Medan tersebut telah menyinggung idol mereka. Semua hanya gesekan dari dua sudut pandang yang berbeda. Edy sendiri sudah menjelaskan bahwa lukisan Jin dan Suga yang ia buat adalah pesanan dari seorang ARMY dari Jakarta. Tentu sebagai seniman yang profesional dirinya merasa harus memenuhi permintaan dari para penikmat karya seninya. Dirinya menuturkan, ia sama sekali tidak berniat menyinggung siapapun dengan karya seninya. Edy sudah melukis menggunakan sampah plastik selama 6 tahun. Dan ia akan terus melakukannya sebab misinya bukan hanya memuaskan kesenangannya, tetapi juga sebab kepeduliaannya terhadap lingkungan. Masterpiece Lukisan Member BTS Karyanya tersebut sempat menjadi polemik di kalangan fans BTS, yang dikenal dengan sebutan ARMY. Beberapa sangat mengapresiasi hasil tangannya yang sangat menakjubkan tersebut. Namun, ada pula sebagian fans yang menganggap bahwa seniman Medan tersebut telah menyinggung idol mereka. Semua hanya gesekan dari dua sudut pandang yang berbeda. Edy sendiri sudah menjelaskan bahwa lukisan Jin dan Suga yang ia buat adalah pesanan dari seorang ARMY dari Jakarta. Tentu sebagai seniman yang profesional dirinya merasa harus memenuhi permintaan dari para penikmat karya seninya. Dirinya menuturkan, ia sama sekali tidak berniat menyinggung siapapun dengan karya seninya. Edy sudah melukis menggunakan sampah plastik selama 6 tahun. Dan ia akan terus melakukannya sebab misinya bukan hanya memuaskan kesenangannya, tetapi juga sebab kepeduliaannya terhadap lingkungan. Dari belakang pekarangan rumahnya ia kumpulkan sampah plastik yang terus menumpuk, ia bersihkan lantas ia manfaatkan sebagai material lukisnya. Selain sebagai sebuah karya seni, lukisan-lukisan ini juga bermakna kampanye kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Awalnya Edy membuat sketsa dari lukisan yang hendak dia buat, selanjutnya Edy menempelkan sampah-sampah plastik sedemikian rupa dengan susunan warna tertentu menjadi sebuah lukisan cantik. Bukan tanpa alasan, ia melukis dengan sampah plastik karena ingin menyelamatkan lingkungan. Edy ingin membuktikan bahwa sampah juga bisa bermanfaat. Ia menegaskan bahwa melukis dengan plastik bukan untuk mencari nafkah, melainkan hanya hobi saja. Mengapa saya melukis menggunakan sampah? Saya hanya ingin menunjukkan bahwasanya sampah juga punya manfaat, jadi saya ingin mengajak semua teman-teman untuk lebih peduli terhadap dampak sampah dan memanfaatkan sampah agar kita bisa mengurangi dampak sampah. Edy Suranta Ginting Dari Edy, kita semua belajar bahwa tak perlu menunggu kelompok atau golongan tertentu melakukan pertanggung jawaban terhadap isu sampah di lingkungan kita. Semua dapat bermula dari tindakan kecil yang siapa saja bisa lakukan. Siapa saja dapat mengurangi eksistensi sampah dengan mengelola sampah rumahnya secara baik dan bijak. Misalnya, membuat beberapa tempat sampah dengan kegunaan berbeda yang nantinya dimanfaatkan untuk memisahkan sampah rumah tangga berdasarkan kategori tertentu.  Membiasakan membungkus sampah-sampah yang sudah dipisahkan sebelum diserahkan atau dibuang ke tempat sampah umum. Dan menyerahkan jenis sampah plastik yang bisa di daur ulang kepada organsasi/kelompok/dinas yang juga berdedikasi dalah hal mendaur ulang sampah plastik.

Karung Plastik VS Karung Goni Mana Yang Terbaik ?

Karung Plastik atau Karung Goni

Karung Plastik atau karung goni apa perbedaannya ? Dan mana yang lebih baik penggunaannya ? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita cari tahu dulu, Apa itu karung ? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karung adalah kantong besar dari goni yang kasar yang digunakan untuk tempat beras dan sebagainya. Atau juga diartikan sebagai kantong pakan yang mempunyai volume tertentu. Lalu goni sendiri ialah serat dari tumbuh-tumbuhan untuk pembuatan karung dan sebagainya. Jika dilihat dari pengertian diatas, sudah pasti karung terbuat dari goni. Namun saat ini, kata karung telah mengalami perluasan makna. Tidak lagi harus dari goni yang kasar melainkan berkembang dengan berbagai bahan material. Perubahaan era menciptakan berbagai inovasi dalam pengembangan sebuah produk. Dan karung adalah salah satu dari sekian banyak produk yang mengalami revolusi. Kesimpulannya, karung saat ini adalah kantong yang digunakan untuk mengemas suatu produk dalam volume yang cukup besar dengan berbagai macam ukuran, dan umumnya hanya memiliki satu lubang Apa perbedaan Karung Plastik dengan Karung Goni? Seperti namanya, karung plastik adalah kantong yang terbuat dari bahan dasar plastik sedangkan karung goni adalah kantong yang terbuat dari bahan dasar serat tumbuh-tumbuhan. Di Indonesia, karung goni teridentifikasi telah ada sejak abad ke-18 dan sangat popular pada abad ke-19. Karung goni dahulu diproduksi oleh bangsa Belanda untuk mengemas hasil pertanian warga. Karung goni umum digunakan sebagai kemasan rempah-rempah, biji-bijian, gula, dan lain sebagainya. Masih pada abad ke-19, sekitar pada pertengahan abad, terjadi pergeseran tren kemasan. Karung goni telah digantikan oleh karung plastik. Kemasan yang digunakan untuk beras, gula, garam, dan komoditas lainnya perlahan beralih ke karung plastik yang lebih ringan dan murah. Kegunaan Karung Pergeseran tren kemasan juga menciptakan revolusi dalam hal penggunaan kemasan itu sendiri, terkhusus karung. Jika dulu penggunaan karung hanya terfokus sebagai kemasan dari hasil panen dan hanya digunakan dalam ruang lingkup pertanian dan perkebunan. Maka, kini karung telah menjadi primadona yang dimanfaatkan berbagai sektor industri. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai kemasan produk rempah, biji-bijian, buah-buahan, dan sayur-sayuran saja. Tapi juga dimanfaatkan sebagai kemasan produk kimia, pellet makanan hewan, bahan bangunan, hasil konveksi, barang-barang industri, barang-barang bekas, geotekstil, bahkan pembungkus barang-barang umum lainnya. Karung goni hanya banyak digunakan untuk mengemas produk halus seperti tepung dan produk kasar seperti biji-bijian. Sedangkan karung plastik bisa digunakan untuk produk apa saja, dari yang halus hingga kasar, kecil hingga besar, ringan hingga berat. Apapun itu, jika diperlukan untuk mengemas produk dengan volume besar, pasti karung plastik menjadi pilihan paling utama. Jenis-jenis Karung Karung goni tidak begitu memiliki banyak jenis, mungkin bisa dibilang hanya satu rupa  karung goni. Biasanya karung goni hanya dibedakan berdasarkan morif anyamannya, yaitu anyaman liris dan anyaman catur. Sedangkan karung plastik memiliki banyak jenis. Berikut adalah jenis-jenis karung plastik : Karung putih doff karung ini tidak memiliki motif atau warna apapun selain putih Karung polos strip karung ini memiliki motif strip yang umumnya berada di tengah dan di kedua sisi karung dengan berbagai warna Karung roto/laminasi karung ini merupakan karung yang dicetak grafis pada satu atau kedua sisinya yang kemudian dilaminasi, bahan yang akan dicetak adalah dalam bentuk rol Karung sablon karung ini menggunakan teknik untuk mencetak tinta diatas bahan sesuai bentuk yang dikehendaki Karung bagor karung ini bentuknya bukan kantong melainkan lembaran seperti kain Karung melon karung ini berwarna hijau muda seperti warna pada daging buah melon Karung garam karung ini umumnya berwarna biru benhur dan deniernya lebih tebal Karung Goni atau Karung Plastik? Dilihat dari jumlah penggunanya, karung plastik sekarang lebih banyak disukai dibandingkan karung goni. Walaupun, mungkin masih ada beberapa industri yang mempertahankan karung goni sebagai kemasan untuk kegiatan produksi mereka. Karung plastik sudah berhasil menggantikan eksistensi dan ketenaran karung goni sebagai kemasan. Mari perhatikan kelebihan dari keduanya untuk mengetahui mana yang lebih baik. Karung Goni : ketebalan mengikuti benang goni lebih ramah lingkungan karena terbuat dari tumbuhan           Karung Plastik : ketebalan bisa dibuat beragam lebih kuat dan tahan lama tahan air  mudah di daur ulang  ukuran dan jenis lebih bervariatif ringan dan mudah dibawa harga lebih ekonomis anti rembes  permukaan dapat diprint untuk media promosi Bagaimana cara mendapatkan karung plastik terbaik? PT. Sinar Mulia Plasindo Lestari merupakan produsen karung plastik terkemuka di Indonesia yang sudah bersertifikasi ISO 9001:2015. Artinya karung plastik yang diproduksi oleh SMPL sudah terjamin kualitas produk dan pelayanannya terhadap pelanggan. Oleh SMPL, pelanggan tidak hanya terpenuhi kebutuhan karung plastik saja, melainkan juga diberikan solusi kemasan untuk menunjang kegiatan  usaha mereka Buktikan dengan Klik tombol di bawah Hubungi Marketing

Transformasi Plastik Menjadi Kertas Solusi Pencemaran 2022

Pohon dan Air

Di usia berapa Anda mengetahui bahwa perubahan plastik menjadi kertas bisa terjadi ? Rasanya transformasi tersebut tidak pernah terbayang dan terpikirkan sama sekali. Sudah bukan rahasia lagi, jika limbah plastik yang dihasilkan manusia jumlahnya cukup tinggi. Bahkan diperburuk sebab penanganannya yang masih belum mumpuni. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 menyebutkan limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Belum lagi jika satu dunia. Lalu, kertas yang dikampanyekan sebagai pengganti penggunaan plastik nyatanya memiliki resiko yang tidak jauh berbeda dari plastik itu sendiri. Keduanya sama-sama mengancam keselamatan lingkungan. Limbah plastik yang dibuang begitu saja menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama laut dan mengancam kehidupan di dalamnya. Sedangkan produksi kertas dapat mengancam kelangsungan ekosistem hutan, pun mengancam kehidupan di dalamnya. Plastik atau kertas, keduanya sama-sama mengancam ekosistem jika tidak dikelola dengan sistem manajemen yang baik. Mengganti Pohon dengan Plastik Melansir dari Science Daily, peneliti asal Meksiko berhasil menciptakan teknologi yang dapat mengubah limbah botol plastik PET (Polyethylene Therepthalate) menjadi kertas mineral. Kertas ini juga dikenal sebagai kertas peta atau kertas batu. Walaupun berbahan dasar plastik, kertas mineral telah memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan untuk digunakan dalam mencetak buku, alat tulis umum dan juga kotak. Kertas mineral tersebut dinilai dapat terurai secara alami (biodegradable) walaupun berbahan dasar plastik. Kertas pada umumnya memang lebih ramah lingkungan, namun produksinya telah menghabiskan banyak pohon dan energi yang besar. Angka penggunaan pohon tidak sebanding dengan penanaman kembali. Serta lamanya pertumbuhan pohon sampai cukup usia untuk di tebang tidak selaras dengan kebutuhan untuk memproduksi kertas. Penemuan kertas mineral bisa mencegah eksploitasi hutan sekaligus mengurangi limbah plastik. Plastik menjadi kertas. Kertas, tapi plastik. Konsepnya sedikit komplikasi, namun ini adalah penemuan inovatif yang akan menjadi solutif. Plastik Menjadi Kertas Dikembangkan oleh perusahaan bernama “Cronology”, teknik baru ini diklaim 15% lebih murah daripada metode pembuatan kertas tradisional karena tidak menggunakan air atau bahan kimia, serta jauh lebih ramah lingkungan. Kami memproduksi kertas ekologi yang dibuat dengan botol plastik daur ulang, kalsium karbonat dan batu. Kami tidak menggunakan air atau bahan kimia, seperti klorin. Kertas mineral lebih kuat dari kertas standar biasa, kertas ini tidak mudah dirusak dengan tangan, tahan air, memiliki kualitas fotodegradable dan hanya menyerap jumlah tinta yang diperlukan saat mencetak, Ever Adrian Nava, peneliti sekaligus salah satu pendiri perusahaan Cronology, di Ecatepec, Mexico City Teknologi ini bisa menyelamatkan 20 pohon dan menghemat 56.000 liter air. Manfaat Teknologi Transformer Plastik Selain itu, manfaat lain dari teknik ini adalah bahwa dengan 235 kilogram pelet (manik-manik PET), satu ton kertas mineral dibuat, juga hanya dalam 8 jam dapat memperoleh 24.000 kilogram plastik. Proses ini juga menyelamatkan limbah dari botol-botol plastik agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, jadi ini adalah solusi yang menguntungkan semua pihak. Sebelum menjadi kertas, botol plastik PET harus didaur ulang terlebih dahulu menjadi pelet (manik-manik plastik).  Limbah botol-botol plastik dileburkan atau dihancurkan bersama kalsium karbon. Kemudian campuran keduanya dipanaskan dalam suhu lebih dari 100 derajat Celcius dan dimasukan ke dalam proses pengecoran. Hal ini dilakukan untuk membentuk lembaran kertas besar yang digulung. “Dengan tidak menebang pohon atau menggunakan air, kami telah mengurangi biaya dan membantu planet ini. Untuk menghasilkan satu ton kertas tradisional, kita selalu mengalami kerugian lingkungan, dengan kertas peta ini kami coba menghilangkannya,” kata Nava seperti yang dikutip dari Phys.Org. Ide awal dari adanya jenis kertas ini adalah untuk mengurangi biaya produksi dan menghindari deforestasi, karena negara Meksiko perlu memproduksi 700.000 ton kertas per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dengan biaya sekitar 10 juta dolar. Sekitar 33% kertas yang diproduksi di Meksiko adalah untuk bahan buku, 25% untuk pembungkus produk, dan sisanya untuk tisu toilet serta bungkus makanan. Perusahaan ini didanai setelah memenangkan kompetisi untuk perusahaan hijau baru di Meksiko. Mesin yang dibuat oleh Nava bersama rekan setimnya, Erick Zamudio, mirip dengan mesin pembuat tortilla. Kertas peta dibuat dari bahan “pasta” yang menghasilkan kertas tahan air dan ramah terhadap lingkungan karena terdegradasi hanya dalam waktu enam bulan. Crtto tertera di foto Satu-satunya kelemahan kertas mineral adalah tidak dapat ditulis dengan gel tinta karena mengandung alkohol. Hanya tinta biasa yang bisa berfungsi dengan baik. Mimpi Menyingkirkan Limbah Plastik Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya plastik diubah menjadi kertas. Beberapa perusahaan di Spanyol dan Taiwan sudah memproduksi kertas menggunakan proses serupa. Tetapi tim Nava mengklaim bahwa sistem yang dimiliki Cronology empat kali lebih murah daripada metode lain. Ini merupakan solusi yang cerdik untuk mengatasi permasalahan lingkungan di setiap negara. Bayangkan berapa puluh pohon yang bisa diselamatkan dengan teknologi ini ? Selain dari upaya kita mengurangi penggunaan kertas dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan berapa banyak limbah plastik yang akan berkurang dengan metode ini ? Selain dari upaya kita mengelola ekonomi sirkular dan daur ulang plastik yang masih minim. Bayangkan, jika semua negara mampu menerapkan teknologi yang sama. Tapi, yang menjadi pertanyaan di sini adalah bagaimana pengelolaan limbah dari kertas mineral itu sendiri ? Walaupun dinilai dapat terurai secara alami, pasti limbah dari kertas tersebut memiliki penanganan tersendiri agar klaim tersebut nyata.